Kamis, 24 September 2009

Curhat Muslim, Mengintip Jayabaya

Melihat kelakuan demi kelakukan orang di sekitar diri, memandang tindak demi tindak makhluk-makhluk yang menyebut diri manusia di wilayah yang aku ketahui, menimbulkan seribu tanda tanya di hati. Lalu, satu masa aku membaca sebuah bahan yang selama ini aku sendiri hanya mendengar cerita atau hanya mendengar celoteh dari orang-orang tua di kampungku.
Menjadi satu keherana kemudian bahwa yang aku baca ternyata aku temui banyak membawa satu bukti, padahal khalayak banyak menilai bahwa yang aku baca hanya sekedar pendapat orang-orang kuno dulu dan itu diwujudkan dalam bentuk ramalan. Namun aku juga bertanya-tanya kembali, bagaimana pendapat orang kuno dulu justru banyak menemui kenyataan? Padahal ini jaman serba komputer dan hand phone?


Satu pendapat yang aku baca adalah petikan serat jawi yang dikenal dengan serta jayabaya. Dari pendapat itu berisi:

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis oleh Jayabaya , raja Kerajaan Kadiri . Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa.

  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berlayar di ruang angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan lubuk.
  5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman--- Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik
  12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Allah--- Tak peduli akan hukum Allah.
  16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa--- Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
Berlanjut ....
Selengkapnya...

Curhat Muslim, ber-Hari Rayakah Aku?

Akhirnya masa penantian selama sebulan dalam naungan ramadhan, berujung di hari Iedul Fitri. Ahad, 20 September tahun ini menjadi hari yang begitu menggembirakan bagi begitu banyak manusia. Termasuk aku ....
Tetapi, di lain saat aku masih merasakan kengiluan di bagian lain hatiku. Sebab ku lihat aku ada di ujung kondisi yang seperti menggali jurang kehancuran untuk dua bidadari kecilku.


Sehari sebelum hari kemenangan tiba, Rizka melayangkan satu pesan melalui media yang ia dulu mencoba berpaling dariku.
"Meski kukatakan walau ini kan terasa menyakitkan. Sampai saat ini aku tetap pada pendirianku, aku ndak bisa kembali ke sana (rumah ini) seperti dulu, aku ndak sanggup menjadi pendamping Sampeyan lagi. Dan perpisahan yang q pilih. Untuk Syifa, dia kan lebih baik disana, terlalu berat buat q harus membawa mereka berdua ...."
(from 081803853211 ; jam 14:03:48 ; 18/09/2009)

Kebingungan menyelimuti diri, beribu tanda tanya melingkupi otak dan hati. Inikah hari kemenangan yang harus kunikmati?

Pas di hari kemenangan (Ahad, 20 September) aq masih menerima pesan melalui media yang sama dengan Rizka yang dulu mencoba melukai aku dengan inginnya memuaskan hati.
"Teb!ng tinggi dapat didak! ... dendam di hat! susah dijajak! ... k!k!s smua benci dandengki .... Mohon maaf dengan sepenuh hat! ...
Minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lah!r dan bat!n. Met hari raya Idul Fitri ..."
Dalam ketermanguanku aku merasakan ada luka lagi dalam hatiku. Teradakah pesannya ini untuk menambahi kelukaanku? Teradakah pesan itu menjadi penghias dan pemanis bibir? Sungguh jauh didalam lubuk hatiku berharap pesan itu lahir dari dalam hatinya, memang ada hidayah dan pemikiran tuk kembali mengaji kembali semua pemikiran-pemikiran selama ini ....

Di ujung mimpi ini, tertunduk aku munajat diri, "Ya Ilahi, karuniakanlah kepada kami hidayah-MU. Jangan biarkan kami menjadi orang yang Engkau murkai dengan perbuatan kami yang menuruti nafsu diri ..... Amien amien amien ..."

Selengkapnya...

Sabtu, 19 September 2009

Curhat Muslim, Dalam Ketakmengertian

Tumbuh dalam lingkungan pedusunan agaknya memangnya banyak mempengaruhi perkembangan pola pikirku. Lingkungan pedusunan, namanya saja sudah dusun, pasti tidak jauh dari bayangan masyarakat di wilayah desa yang (paling tidak) jauh dari kota. Tentu saja gaya hidup masyarakat dusun tidak sama dengan orang-orang kota. Walau tidak dipungkiri dari waktu ke waktu, nilai-nilai yang ada di sebuah dusun berangsur-angsur memudar karena terpaan nilai-nilai yang dibawa warga dusun itu sendiri yang sudah paham model lingkungan orang-orang kota.
Hal ini dapat kurasakan di salah satu cara pandang dan pola pikirku tentang hubungan seorang laki-laki dan perempuan. Dalam hal apa? Banyak hal.
Misalnya .....


Menurut sudut pandangku, jika seorang perempuan sudah mempunyai suami sah secara agama maupun dalam naungan hukum di negara ini, tentu perempuan itu harus menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan suami serta keluarganya. Di lingkungan dusunku, perempuan yang sudah menapaki rumah tangga sudah disebut wanita. Kata wanita, menurut sebagian cerita berasal dari bahasa Jawa wani ditata, yang kurang lebih dimaknai orang yang sudah harus mau menata diri dan mau ditata oleh suaminya.
Kedengarannya sih kolot, ya nggak? he... he... he....
Tetapi menurut aku, justru banyak aku temui begitu dalam filosofi yang ada dalam kebiasaan-kebiasaan (adat?) masyarakat dusunku ini. Bahkan kadang aku mendapati nilai-nilai yang luhur dalam keseharian masyarakat dusunku ini.

Namun di saat lain sering kali aku menemui banyak perempuan yang 'mencoba' untuk tidak setia pada pasangannya, walaupun perempuan itu sudah secara resmi menjadi istri. Atau dalam bahasaku sudah disebut sebagai wanita, yang mengarah pada seorang perempuan yang sudah seharusnya dan selayaknya bisa menata diri, bisa menjaga kehormatan diri - suami dan keluarganya. Seorang perempuan yang sudah harus berani (mau) ditata, oleh tatanan yang dipakai di masyarakat maupun tatanan yang ada dalam dogma yang dianut.
Lalu kalau seorang perempuan yang sudah bersuami melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain dan mengkhianati suaminya (dengan asumsi: perjalanan rumah tangga secara umum tidak ada kendala dan suami setia, meski selisih paham serta beda pendapat sudah pasti ada), nilai tatanan manakah yang ia pegang? Atau ajaran dogma mana yang membolehkan seorang perempuan yang sudah bersuami untuk berslingkuh?

Atau, tatanan dalam masyarakat dan dalam dogma ajaran agama memang sudah tidak berlaku lagi? Orang sudah lebih menomorsatukan akal dan pikirannya? Atau, sedikit lebih ekstrim lagi orang-orang sudah mendahulukan nafsunya?
Selengkapnya...

Jumat, 18 September 2009

Curhat Muslim, Doa RamadhanHari ke-25

(by Lutfie)


أللّهُمَّ اجْعَلني فيهِ مُحِبّاً لِأوْليائكَ ، وَ مُعادِياً لِأعْدائِكَ ، مُسْتَنّاً بِسُنَّةِ خاتمِ أنبيائكَ ، يا عاصمَ قٌلٌوب النَّبيّينَ .

artinya :
" Yaa Allah! Jadikanlah aku orang-orang yang mencintai auliya-Mu dan memusuhi musuh-musuh-Mu. Jadikanlah aku pengikut sunnah-sunnah Nabi Terakhir-Mu, Wahai Penjaga Hati Para Nabi.."


Semoga Gusti Kang Murbeng Dumadi selalu menaungi kita dengan rohmat dan kasih sayang-NYA. Amien ...
Jelang Hari Kemenangan, semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang "menang" dalam ramadhan tahun ini ....
Selengkapnya...

Curhat Muslim, Kerinduanku Padanya

Sungguh menggelikan di usiaku yang seperti ini aku baru merasakan bagaimana rasanya bila seseorang yang begitu berarti tidak berada disampingku. Sebab dari waktu ke waktu yang sudah aku lalui, hampir-hampir bagian ini selalu terlewati dan tak terhiraukan. Ha... ha... ha....

Ya, memang sejak dulu sejak aku merasakan mulai ada rasa yang berbeda kepada makhluk manis dari kaum hawa, perasaan seperti itu selalu aku tepiskan. Sedapat mungkin dan sekuat tenaga aku tak menghiraukan, atau lebih tepatnya tak berani aku biarkan ada dan tumbuh dalam diriku. Kenapa?
Mungkin sobat pernah merasakan atau setidaknya mengalami satu perasaan bahwa diri ini tak mempunyai sesuatu yang dapat dilebihkan dan ditonjolkan. Ganteng? tidak..... Postur tinggi atau atletis? juga tidak .... Kaya? ehm ... kaya apanya? Lha wong aku hanya anak seorang buruh tani yang hidup di sebuah dusun di wilayah Kabupaten Malang ini.


Dari itu, dari awal aku sudah tak berani menumbuhkan perasaan suka kepada seorang makhluk manis ....
Namun di waktu-waktu ini Yang Maha Pengasih memberiku seseorang makhluk manis itu. Itupun di awali dengan hati yang kosoong. Belum ada rasa apa-apa. Hanya sekedar menjalani lakon ini, detik demi detik. Hingga detik demi detik itu merangkai waktu yang menggandeng hitungan tahun .... Dan tanpa kusadari aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mulai merasakan begitu sepi tanpa seseorang itu ada bersamaku. Ada sesuatu yang hilang dan hitungan waktu menjadi begitu hampa, kalau dia tak disini ....

Dan justru pada saat semacam itu, dia menyampaikan inginnya tuk mengakhiri semua cerita ini. Makhluk manis itu mengutarakan isi hatinya, bagaimana selama ini cara pandang dia dan aku sungguh jauh berbeda. Semua perbedaan yang melahirkan salah paham, gontok-gontokan, dan menomorsatukan ego masing-masing tanpa ada yang mau diasorkan ...
Dia, Rizka (begitu makhluk manis itu biasa aku panggil), begitu ngotot tuk melangkah dengan kesendiriannya lagi. "Perbedaan kita tidak mungkin disatukan ....", begitu dia berkata.

"Meski ku sampaikan walau ini kan terasa menyakitkan..... Sampai saat ini aku tetap pada pendirianku, aku ndak bisa kembali ke sana seperti dulu. Aku ndak sanggup lagi menjalani hidup bersama sampeyan lagi. Dan perpisahan yang aku pilih ....," begitu pesan yang disampaikan padaku. (from 081803853211 ; 18/09/2009 ; pukul 14:03:48)

Sungguh, bagaimana semua ini harus aku hadapi ? Benih kasih sayang ini sudah terlanjur tumbuh, meski belum tersirami dan tumbuh menghijau. Buah sayang ini pun sudah ku gandeng dan ku genggam, bagaimana aku harus menyikapi? Akankah harus kutelan kepahitan ini, disaat aku mulai merasakan damai di cerita ini?
Tak adakah satu pemikiran dalam diri Rizka tuk mencoba merangkai lagi semua cerita indah bersama ? Mencoba menjadikan semua salah dan beda sebagai pengarah langkah-langkah ini ? .....
Semua kata-kata sudah aku rangkai tuk menjadi bahan pikir. Dari semua rajutan kisah yang terangkai, liku perjalanan yang terjalani, dan buah kasih sayang yang sudah dianugerahkan .... sudah aku sampaikan semua, namun inginnya Rizka belum tergoyahkan.

Atau ... bagi Rizka aku sudah tergantikan seseorang lain ?
Selengkapnya...

Rabu, 16 September 2009

Curhat Mulsim, Kapan Riyoyo ?

Seperti yang aku gelisahkan di awal ramadhan tahun ini, rajutan cerita dari serangkaian bentuk yang ku lukis di dinding bulan penuh rahmah ini tak seindah yang ku ingin lukiskan. Banyak sekali hal-hal yang seharusnya penuh makna dan menjadi bentuk-bentuk yang menyusun lukisan di bulan yang ditunggu-tunggu, tak dapat aku wujudkan.
Seperti yang sudah aku satu angankan, aku ingin tadarus (nderes) Al Qur'an paling tidak beberapa juz, eh ternyata hanya dapat beberapa lembar saja. Tersirat niatan hendak menambah shodaqoh-shodaqoh di bilangan hari ramadhan ini, eh rasa medit ini masih membayangi langkahku menuju sana. Sangat ingin aku mengurangi pandangan, ucapan, pendengaran yang mengurangi atau bahkan menghapus pahala puasa, eh .... masih juga mata ini jelalatan kemana-mana. Ucapan-ucapan yang kucoba reeemm, eh masih juga nyerocos bikin telinga orang sakit atau rasa orang jadi sedikit tersungging ... eh, tersinggung maksudku. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Ah ....




Sampai di sepertiga bulan di sasi ramadhan ini, kurasakan belum juga ada perbaikan berarti. Apa arti puasaku ini duh Gusti ?

Belum lagi kegelisaha ini hilang, eh jelang Idul Fitri sedikit terseok dengan adanya salah satu ormas Islam yang sudah memutuskan untuk ber-Hari Raya Idul Fitri tahun ini lebih awal satu hati dari kalender umum. Di kalender umum, Idul Fitri terjadwal jatuh pada hari Senin dan salah satu ormas Islam besar Indonesia itu sudah menetapkan ber-Hari Raya Idul Fitri pada hari Ahad, atau satu hari lebih awal. Beberapa media memuat bahwa pemerintah sendiri melalui MUI belum memutuskan kapan waktu untuk Idul Fitri tahun ini.
we la dalah ... bumi rodo gonjang ganjing, ananging langit ora kelap-kelap sebab aku nulis ini siang hari. Seandainya malam, mungkin langit pas kelap-kelap. Kalaupun ndak kelap-kelap, paling tidak kelap-keliplah. Sebab lampu di ruangan ini yang watt nya kecil, kan kelap-kelip ....

Tapi biarlah ... sebab aku yakin perbedaan itu kan menjadi rahmah bagi ummat untuk terus mencari dan mencari. Atau setidaknya, menjadi bahan kajian untuk terus belajar atau tholabul 'ilmi faridhottun 'ala kulli muslimin wal muslimat ...
Selengkapnya...

Rabu, 09 September 2009

Curhat Muslim, Kemanakah Angin Bertiup?

Di sepuluh hari kedua ramadhan tahun ini sepertinya akan menjadi salah satu waktu yang mengguratkan kisah yang sangat berarti dalam hidupku. Seperti layaknya Anak Baru Gege (ABG) yang sedang kasmaran, aku terantuk pada cerita yang banyak menghiasi hidup anak manusia itu. Ya, aku terperangkap dalam kisah asmara yang melarutkan diriku. Larut yang kurasakan begitu mendalam, seperti tanpa sadar aku melaluinya.

Seperti aku ungkapkan di atas dan bak cerita dalam sinetron (ceileh ...), perjalanan waktu yang kulalui bersama Rizka (begitu wanita yang dihadapkan Ilahi padaku ini biasa aku panggil) yang semula tanpa rasa, kini kusadari tidak lagi seperti itu. Yach, di awal perjalanan bersama ini aku belum merasakan arti kehadirannya bagiku. Aku belum merasakan beban yang berat apabila Rizka tidak di sini. Aku seolah tak peduli, dia ada atau tidak diperjalananku dan aku tetap berjalan...

Bagaimana mungkin aku berjalan dengan seorang perempuan yang aku tidak merasakan arti kehadirannya di hatiku? ....


Ya... Langkahku bersama Rizka lebih banyak didukung oleh pembimbingku, orang yang kujadikan bapak dan membantu arah perjalanan hidupku. Sekali lagi, bagaimana bisa ?

Jawabannya adalah b i s a !

Kamu mungkin pernah mendengar seseorang yang mencari ilmu di suatu majlis khusus, gambarannya seperti padepokan atau suatu perguruan klasik jaman dulu. Dimana nilai yang begitu kental pada situasi macam itu adalah kepatuhan seorang santri, sebut saja begitu, pada guru yang membimbingnya.

Namun aku tidak sepenuhnya demikian. Aku lebih condong bahwa orang yang mengarahkan aku kuanggap sebagai bapakku, memberi masukan-masukan untuk keputusan yang aku ambil, dan semacamnya. Termasuk perjalanan hidupku yang tertukil bersama sisian hidupku. 'Bapak' aku itu juga memberi masukan wanita yang menjadi partner perjalanan merangkai cerita cinta.

Nah, semacam itulah awal perjalanan cerita cintaku.
Namun setelah perjalanan ini mengulang tahun yang kesekian, ada rasa yang beda tumbuh dalam diriku. Ada rasa berat saat Rizka jauh dariku. Ada rasa kehilangan saat Rizka tidak menemaniku. Ada rasa .....
Semula aku tidak yakin dengan perasaan ini. Seorang teman sempat berceloteh sambil cekikikan, "witing trisno jalaran soko kulino iku ...."

Dan, pada saat aku merasakan begitu hebatnya rasa ini justru pada saat aku dan Rizka sudah tahu banyak perbedaan pandangan antara kami. Perbedaan yang sementara ini aku dan Rizka coba menepisnya.
Selengkapnya...

Kamis, 03 September 2009

Mutiara Ramadhan hari ke-14


(by Lutfi - smanti mlg)

Imam Ali kw pernah mengatakan, “Iman akarnya adalah keyakinan, cabang/batangnya adalah ketakwaan, bunganya adalah malu, dan buahnya adalah kedermawanan.”

Iman kepada Allah artinya yakin bahwa penguasa alam semesta ini adalah Allah SWT. Untuk itu, orang yang beriman akan berusaha memenuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang Allah (=takwa). Selanjutnya, orang yang beriman akan malu melakukan segala bentuk dosa, bahkan ketika tidak ada orang yang menyaksikan sekalipun. Sebagaimana yang pernah tertuliskan di Mutiara ramadhan (1) salah satu ciri takwa adalah meyakini “Yang Gaib”, antara lain meyakini bahwa ada yang selalu mengawasi segala perilakunya, yaitu Allah SWT dan para malaikat.


Terakhir, buah dari iman adalah kedermawanan. Tidak beriman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri, sabda Rasulullah SAW. Orang yang beriman tidak akan bisa tidur nyenyak sementara ada tetangga atau saudaranya sedang kelaparan. Dia tidak akan tega menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang, sementara banyak anggota masyarakat yang makan sehari sekali pun belum tentu.

Doa Ramadhan hari ke-14

اَللّهُمَّ لاتُؤاخِذْني فيهِ بالْعَثَراتِ ، وَ اَقِلْني فيهِ مِنَ الْخَطايا وَ الْهَفَواتِ ، وَ لا تَجْعَلْني فيهِ غَرَضاً لِلْبَلايا وَ الأفاتِ بِعزَّتِكَ ياعِزَّ المُسْلمينَ .

Yaa Allah! Janganlah engkau hukum aku karena kekeliruan yang kulakukan. Dan ampunilah aku dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan. Janganlah Engkau jadikan diriku sebagai sasaran bala' dan malapetaka. Dengan kemuliaan-Mu, wahai Kemuliaan Kaum Muslimin.

Selengkapnya...

Mutiara Curhat

Curhat menjadi satu arti
Curhat menjadi penuh arti
Curhat menjadi kebutuhan hati ...
Tuliskan curhatmu disini, saudaramu kan memelukmu erat dan memberimu embun
Kirim email ke tu.curhatmuslim@gmail.com

Statistik Tamu

Sponsor Cepat

Followers

Ruang Ngobrol


ShoutMix chat widget
 

Iklan Jitu


Masukkan Code ini K1-C1D41F-F
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com