Rabu, 07 Oktober 2009

Curhat Muslim, Setitik Harapan

Beberapa hari lalu, pikiranku cenderung dalam kegelisahan. Detik demi detik yang kulalui, seperti meniti jalan berkerikil tanpa alas kaki. Nyeri dan ngilu kurasakan di sekujur tubuh. Tak urung menjadikan mata ini memercing, dahi berkerut, dan wajah tertunduk. Orang-orang banyak memandangiku, hanya memandang. Hampir tak ada seorang pun yang beranjak memegang pundakku seraya berbisik, "Ada apa? Apa yang bisa aku bantu?"
Mengapa? Mengapa hampir semua orang hanya memandangiku? Membiarkanku dalam ketermanguan dan terantuk-antuk? Saudara-saudarakukah mereka? Apa benar memang teman-temanku? Lalu mengapa kau biarkan aku?


Dalam tanda tanya itu, tertatih aku memegangi tongkat pemapahku. Tersisa harapanku pada Gustiku... Ya, tersisa dan kusandarkan asa terakhirku pada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Yang Maha welas tanpa minta balas, Yang Maha Asih tanpa meminta kembali ...
Akhirnya kurasakan setitik harapan kebersamaan itu disini, saat hampir semua asa punah.
Makhluk hawa yang dianugerahkan kepadaku, mau sedikit membuka hati. Merenungi kembali semua salah dan langkah kemarin. Salahku, langkahku, salahnya, dan langkahnya. Walau aku tahu dia dalam kebimbangan, meski aku menyadari dia dalam keraguan. Masih dalam tanda tanya, akankah kebersamaan ini kan diulang kembali dalam tebaran senyum ketulusan ?

Ya Ilahi ..... sekali lagi, aku sandarkan asa ini pada kasih sayang-MU, dalam keyakinanku Gusti tidak akan mengecewakan hamba yang benar-benar bersandar pada-MU. Amien .....

Comments :

0 komentar to “Curhat Muslim, Setitik Harapan”


Posting Komentar

Ketik komentar Anda, klik "select profile", pilih Name/URL, ketik nama Anda, klik "Lanjutkan", klik "Poskan komentar". Terima kasih atas kunjungan Anda