Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Maret 2010

Gene Netto, Dengan Rasionalitas Menemukan Islam

Suatu kali aku mencoba puter-puter di salah satu koran online di Indonesia tentunya. Aku tertarik dengan curhat seorang muslim yang terbilang mualaf (baru masuk Islam). Curhat seorang muslim yang dimuat dalam www.republika.co.id ini memaparkan cerita seorang warga negara Selandia Baru yang tahun ini belajar di Universitas Indonesia.
''Mengapa seseorang harus menanggung dosa orang lain? Masak , hanya dengan meminta ampun, dosa langsung diampuni tanpa ada perbuatan yang dilakukan untuk memperbaikinya. Sangat tidak masuk akal.'' Begitulah kalimat yang disampaikan Gene Netto, mualaf asal Selandia Baru, saat ditanya Republika alasannya memilih Islam.


Karena kebingungannya memahami maksud yang tidak rasional itu, Gene memutuskan menjadi seorang yang tidak percaya dengan agama (ateis). Saat itu, ia baru berusia 10 tahun. Baginya, daripada percaya dengan hal demikian, lebih baik memikirkan hal yang lain. Namun begitu, ia percaya Tuhan.

Ketika beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa di Universitas Griffith, Australia, Gene tetap tidak tertarik dengan agama apa pun. Baginya, tidak ada agama yang mampu menjelaskan masalah pengampunan dosa itu.

Maka, ketika bertemu dengan seorang mahasiswa asal Indonesia yang beragama Islam dan menjelaskan bahwa hanya Tuhan yang mampu mengampuni dosa asal orang tersebut tidak mengulanginya lagi, pria kelahiran New Zealand 39 tahun lalu ini langsung terperangah. ''Benarkah demikian?'' batin Gene.

Padahal, itulah untuk pertama kalinya Gene bertemu dengan orang Islam. Maka, ia pun banyak bertanya tentang konsep Tuhan dalam Islam. Awalnya, ia memandang Islam sama seperti agama-agama lainnya. Tidak masuk akal, tidak rasional.

Namun, setelah bertanya dan membandingkannya, ia mulai menemukan secercah cahaya dalam Islam. Maka, ia pun terus-menerus mempelajari Islam, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa salah dan keliru. Namun, semakin ia mempelajari, Gene semakin menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan.

Puncaknya adalah saat ia mempelajari Alquran, kitab sucinya umat Islam. Bukan isinya, melainkan hanya tulisan Arab-nya. Ia membandingkan Alquran cetakan terbaru dengan cetakan puluhan tahun silam. Hasilnya, tak ada satu pun huruf yang berubah. Begitu juga dengan Alquran versi Australia, Inggris, Indonesia, Arab Saudi, Mesir, dan lain sebagainya. Semuanya sama.

Sementara itu, kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang ia punya sudah memiliki perbedaan makna. ''Saya membandingkan cetakan tahun 1960-1990 dengan penerbit yang sama. Ternyata, di dalamnya terdapat perbedaan atau perubahan. Karena itu, saya semakin yakin, Islam adalah yang benar dan dari Tuhan. Masak kitab yang difirmankan Tuhan dalam waktu hanya 30 tahun sudah berubah,'' batinnya.

Suatu hari, ketika berkesempatan ke Indonesia, ia mempelajari budaya Indonesia sekaligus Islam. Ia mendalami agama Islam melalui buku-buku. Akhirnya, setelah lebih dari lima tahun mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim.

''Alquran tidak mungkin ditulis oleh Muhammad, tetapi ada yang membimbingnya dan menjelaskan firman-firman itu, yakni Allah SWT,'' terang Gene yang pernah menjadi mahasiswa di Universitas Atmajaya dan Universitas Indonesia ini.

Saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Gene hanya dibimbing oleh seorang teman. Saat itu, Gene mengaku tak ada perasaan khusus apa-apa. Hanya, dia merasa dirinya lebih lengkap, lebih baik, dan merasa melangkah di jalan yang benar. ''Sebelumnya, saya tidak beriman. Sekarang, saya jadi beriman dan merasa lebih baik.''

Hal yang terpikirkan pertama kali saat Gene menjadi mualaf dan tekadnya pertama kali adalah mau belajar shalat saja. Sebenarnya, hal itu tidak ada istimewanya, namun dia mengaku bingung, bagaimana memulainya dan bagaimana caranya. Terlebih lagi, dia tak masuk pesantren atau belajar agama kepada seseorang.

Belum setahun mualaf ini menjalani Islam dalam kehidupannya, seorang teman mengajak Gene untuk bertemu dengan KH Masyhuri Syahid, wakil ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang wafat tahun 2007 silam.

Dari ulama inilah, Gene menimba ilmu agama. Pelajaran fikih didapatnya tiap Rabu. ''Saya selalu bingung dan bertanya, mengapa ini benar dan mengapa itu salah. Dari sisi tafsir dan fikih. Beliau belum pernah tidak tahu berbagai pertanyaan dari saya. Bahkan, saya pernah iseng-iseng tanya, bagaimana shalatnya orang di ruang angkasa. Eh, ternyata, beliau menjawabnya dengan jelas. Beliau membimbing saya terus sampai wafatnya.''

Karena itulah, ia merasa keislamannya kini semakin mantap. Apalagi, Islam selalu memberikan jawaban yang logis. Mulai dari persoalan emosi, fisik, dan spiritual. Manusia membutuhkan itu semua. Manusia makan, menangis, marah, dan lainnya. Tapi, manusia juga butuh kebutuhan spiritual.

Bagaimana memenuhi kebutuhan spiritual itu? ''Harus semakin dekat dengan Tuhan. Sebab, tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang tidak membutuhkan Tuhan. Itu sudah ada sejak ribuan tahun silam, termasuk ketika manusia menciptakan berhala-berhala untuk disembah,'' terang Gene yang kini semakin sibuk dengan undangan ceramah di berbagai tempat di Indonesia.

''Saya semakin yakin dan mantap dengan agama Islam. Mudah-mudahan, saya bisa istikamah dalam menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunah Rasulullah SAW,'' harapnya. ed : sya

Saat memutuskan diri menjadi Muslim, Gene merasa semakin lebih baik. Kendati harus berpisah dengan kedua orang tua dan adik-adiknya di Selandia Baru, Gene betah di Indonesia. Ia merasa dunia dakwah di Indonesia ini penuh dengan tantangan.

Gene mengakui, Indonesia adalah negara yang sangat kondusif dalam menyebarkan dakwah. Karena itu, ia akan senantiasa mengisi dakwah dan ceramah demi menemui umat dan menyampaikan kebenaran Islam.

''Kalau di Selandia Baru atau Australia, mungkin belum cocok buat saya berdakwah. Sebab, kalau di sana, mungkin hanya satu-dua orang yang mau masuk Islam. Tapi, kalau di sini sangat banyak dan bisa memberikan pendalaman agama kepada orang yang sudah Islam sejak lahir,'' terangnya.

Tak hanya melalui panggung ke panggung, Gene juga berdakwah melalui tulisan dan media massa, seperti blog , email, dan lainnya. ''Melalui tulisan, banyak orang yang bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa diakses di mana saja,'' ujarnya.

''Saya tak berniat pulang kembali ke Australia ataupun Selandia Baru untuk berdakwah,'' tambahnya.

Ia kini sangat mencintai Indonesia, sama seperti kampung halamannya sendiri. Namun, Gene kesulitan untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Ia berharap, ia diberikan kemudahan menjadi warga negara Indonesia (WNI) atau mengurus visa. Gene kini hanya bergantung pada visa budaya yang harus diperbaruinya setiap enam bulan.

Pembinaan mualaf
Satu hal penting yang kini menjadi pemikiran Gene adalah pembinaan para mualaf, orang-orang yang baru masuk Islam. Menurutnya, orang-orang yang baru masuk Islam itu harus mendapatkan pembinaan khusus untuk memperkuat pengetahuan keislaman dan keimanan mereka. Tanpa itu, jelas Gene, dikhawatirkan akan banyak mualaf yang hanya menjadi bahan ledekan orang-orang non-Muslim yang tak senang dengan Islam. Untuk itu, kata dia, harus ada lembaga khusus yang menangani mereka.

''Sekarang ini memang ada lembaga yang mewadahi para mualaf. Namun, lembaga itu masih sebatas tempat berkumpul saja,'' ujarnya.

Diakui Gene, kelompok tersebut juga ada yang membina pengetahuan keislaman para mualaf. Namun, menurutnya, hal itu masih sangat kurang. ''Saya berharap lebih menasional dan banyak. Sebab, banyak mualaf ataupun orang yang ingin belajar Islam dan berada di pelosok daerah, namun mereka kesulitan untuk mempelajari Islam yang lebih komprehensif,'' jelasnya.

Gene menambahkan, banyak orang yang masuk Islam, tapi tak tahu bagaimana menjalankan ibadah dan harus ke mana mereka bertanya. Sementara itu, di daerah tersebut tidak ada lembaga khusus yang menangani mereka.

''Para mualaf itu biasanya akan disingkirkan oleh keluarganya, dijauhi dari lingkungan asalnya, bahkan dikeluarkan dari tempat kerjanya. Mereka kerap merasa sendirian. Untuk itulah, dibutuhkan lembaga yang membantu mereka,'' paparnya.

Pengalaman inilah yang dialami Gene Netto. Ia menjelaskan, sewaktu dirinya sudah menjadi Muslim, anggota keluarganya di Australia sempat menolak kehadirannya. Namun, setelah diberikan penjelasan secara khusus, barulah mereka menerimanya.

Karena itu, agar kejadian serupa tidak menimpa kalangan mualaf lainnya, ada baiknya dibentuk wadah khusus untuk membina dan mewadahi kalangan mualaf ini.

Gene mengakui, saat ini ada organisasi yang membina kalangan mualaf, seperti Perhimpunan Muslim Tionghoa Indonesia (PITI) atau Pembina Iman Tauhid Indonesia. Namun, organisasi ini masih sangat terbatas. Ia berharap, organisasi semacam ini bisa lebih luas dan menjangkau seluruh Indonesia.

''Apalagi kalau ada dana. Sehingga, ada petugas khusus yang ditempatkan di masing-masing daerah untuk membina mualaf. Jika ada orang yang ingin bertanya lebih dalam tentang Islam di suatu daerah, petugas atau ustaz itulah yang akan menanganinya,'' harapnya.

Ustaz pembina itu, lanjutnya, diharapkan memahami karakter setiap mualaf atau orang yang mau mempelajari Islam, terutama orang luar negeri (bule). ''Orang bule itu biasanya membutuhkan penjelasan yang sesuai dengan logika dan akal. Kalau seorang ustaz tidak bisa menjelaskannya dengan logika, mereka tidak akan tertarik dengan yang disampaikan.

''Kalau A bilang boleh dan B bilang tidak boleh, mereka tak bisa bedakan. Mereka tidak bisa asal masuk masjid dan minta tolong. Banyak yang tidak tahu kalau mereka boleh masuk masjid (dalam keadaan non-Muslim). Mereka takut akan diusir,'' ujar Gene yang sedang mempersiapkan sebuah buku mengenai perjalanannya menemukan Allah dengan judul, Mencari Tuhan, Menemukan Allah .

Ia berharap lembaga, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Departemen Agama, memiliki hal itu sehingga memudahkan calon-calon mualaf mendapatkan penjelasan tentang Islam yang benar.

Biodata

Nama: Gene Netto
Lahir: Selandia Baru, tahun 1970
Masuk Islam : 1996
Pendidikan : Universitas Griffith Australia, Universitas Atmajaya, dan Universitas Indonesia (UI).
Aktivitas : ceramah, mengajar bahasa Inggris, dan guru di PP Daarul Quran Tebet
Selengkapnya...

Selasa, 09 Maret 2010

Hukum Menceraikan Istri yang tak Patuh



Suatu saat aku membaca sebuah curhat seorang muslim yang coba disampaikan lewat sebuah media. Sahabat itu menyampaikan pemikirannya untuk menceraikan istrinya yang menurutnya sudah banyak menyimpang.
Curhat yang aku ambil dari sumber www.republika.co.id ini dapat dilihat di sini....

Assalmualikum ustadz,

Saya ingin memohon penjelasan dari ustadz. Saya telah menikah kurang lebih dua tahun yang lalu dengan seorang wanita usianya 25 tahun dan usia saya 31 tahun dan saat ini belum dikaruniai anak. Saya mengenalnya lewat taaruf sendiri. Hubungan kami juga tidak melalui proses pacaran. Saya menikahainya karma, waktu itu, dia berjanji akan berusaha menjadi istri yang solehah dan mengikuti apa pun perintah saya, selagi tidak bertentangan dengan hukum Islam


Sebelum menikah, saya anjurkan dia untuk puasa dan dia melakukan puasa, bahkan dia juga puasa sunah nabi Daud. Namun, setelah menikah apa yang saya perintahkan banyak yg ditolaknya, seperti olahraga di pagi hari, mijit saya (malah saya yang selalu disuruh mijit dia).

Bahkan, mulai bulan keempat dia tidak mau lagi berpuasa sunah sampai sekarang. Semua itu membuat rasa suka saya kepadanya mulai hilang, karena saya menikahinya dulu dengan janji akan menjadi istri solehah, rajin puasa, mengikuti perintah saya, seperti puasa dan sekolah agama lagi. Dia juga mulai percaya dengan hal-hal khurafat, seperti hantu. Dia juga mulai berkata-kata kasar terutama saat marah, seperti memanggil saya setan, babi, bodoh. Itu sering dia lakukan di depan keluarganya, sehinga saya seperti tidak ada harga diri lagi di depan keluarganya.

Bolehkah saya menceraikan dia? Karena kesabaran saya sudah habis. Saya pernah memukul tangannya karena tangannya memukul muka saya Saat Ramadhan kemarin dia juga jarang shalat taraweh dan tidak mau ikut saya shalat di masjid.

Berdosakah saya bila menceraikannya? Saya sebenarnya malu untuk bercerai, karena saya hanya ingin istri saya adalah wanita yg solehah yang sama-sama belajar untuk jadi soleh solehah?

Terima kasih ustadz,

Wassalam

Penanya

Jawaban

Wa'alaikum Salam Wr. Wb.

Semoga Allah merahmati kita semua dan selalu memberikan jalan keluar yang terbaik.

1.Jika Anda bertanya 'bolehkanh Anda menceraikannya?', kami katakan bahwa hukum menceraikan istri adalah boleh meskipun dibenci oleh Allah, kecuali jika masuk dalam proses yang haram, sehingga hukumnya jadi haram. Dan kondisi Anda tidak termasuk dalam katagori haram. Jadi jawabannya boleh.

2.Namun, persoalannya tentu tidak sebatas boleh dan tidak boleh. Ada hal yang perlu Anda pertimbangkan hingga perceraian Anda nanti jatuhnya baik. Pertama, sudah seberapa maksimal Anda menasihati dan mendidik istri saudara itu? Kedua, dengan cara apa Anda mendidik istri Anda itu? Ketiga, alasan apa yang menyebabkan perubahan sikap istri Anda itu? Semua itu harus Anda renungkan terlebih dahulu, sehingga keputusan yang Anda ambil nantinya menjadi keputusan yang tepat dan bijaksana.

3.Jika jawabannya adalah bahwa yang terbaik itu pisah, maka ceraikan dengan baik-baiak. Jika masih ada jalan keluar selain pisah, maka tetaplah bersabar, dan tidak ada istilah sabar ada batasnya. Siapa yang berusaha sabar akan diberikan kesabaran oleh Allah.

4.Jangan lupa beristikharah, mohon pada Allah jalan mana yang lebih baik, cerai atau tetap mempertahankan rumah tangga. Semoga sukses.

Wa Allahu a'lam

Selengkapnya...

Minggu, 10 Januari 2010

Curhat Muslim, Bulan Terbelah = Poligami

Hmm.... judul di tulisan ini mungkin akan menjadi judul tulisan yang favorit bagiku. Judul ini untuk kesekian kali, aku ambil dari seorang rekan blogger yang aku cantumkan di bagian akhir tulisan ini. Tulisan yang masih juga membawa embun untuk kuteteskan dalam lubang hati. Semoga menjadi tetes penyejuk.....


Tentang poligami, yang saya bisa pahami dan yakini adalah bahwa semua yang ada didalam AlQuran adalah BENAR adanya, dan sebagai hamba saya tidak sepatutnya mempertanyakan mengapa ALLAH menurunkan ini yang menurut sebagian perempuan sesuatu yang menyakitkan dan menurut sebagian lagi sebagai ladang ibadah, pasti setiap yang tertulis didalam AlQur’an memiliki maksud yang baik, itu yang ada dibenak saya :) karena tak ada yang buruk didalam ayat ayat itu, jadi saya tidak mungkin memilih hanya ayat ayat yang enak enak saja yang saya ambil kan? kemudian meninggalkan ayat ayat yang gak enak, pilih pilih gitu, gak deh :)

Begini ceritanya, di pengajian minggu di AlAzhar kemarin ALLAH mempertemukan saya dengan seorang perempuan yang baru saja mengikhlaskan suaminya menikah lagi, iya, perempuan yang masih sangat muda, berwajah ayu dan manis ini begitu ringannya menjalakan hidup “suami kita kan bukan milik kita De, dia adalah milik ALLAH jadi kalau ALLAH berkehendak memberikannya kepada perempuan lain masa saya berani bilang tidak, bukan hak saya untuk menghalangi suami saya bahagia Ade, cinta adalah ketika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia De, iya kan?”
Jujur, speechless saya mendengar ucapannya sementara diluar sana bergerombol perempuan sampe demo demo sekedar mengumbar keegoisannya untuk menolak hukum ALLAH dengan spanduk “hari gini mau dimadu?” waduh :) bahkan ada yang ekstrim adalah mereka menyebut poligami sebagai “pemuas nafsu belaka” gampang yah menuduh emang :)

Kemudian saya mulai berpikir, kira kira poligami dimata saya itu apa yah? mengambil kata kata ahmad dani “munafik kalo laki laki gak mau poligami” hahaha… artinya mungkin ada satu bagian dari laki laki yang gak cukup dipenuhi oleh satu perempuan [saya juga gak tahu nih bagian yang mana?] , lihatlah berapa banyak kerusakan dimuka bumi ini karena sang istri melarang suaminya menikah lagi, padahal dengan menikah semuanya akan menjadi suci dan sang istri mendapatkan pahala karena menyelematkan sang suami dari hal hal yang tidak benar. Jadi poligami dimata saya pertama adalah sebagai JALAN KELUAR dari kemaksiatan :) ini menurut saya loh :)

Kemudian apa lagi yah kira kira poligami itu dimata saya? kata teh Nini [istri Aa Gym] poligami adalah ladang ibadah, artinya disanalah kita akan memperoleh pahala ikhas, pahala sabar, pahala ibadah tertinggi tentunya, karena sabar itu bayarannya adalah syurga tertinggi. Mari berpikir ulang ketika ALLAH saja menyetujui poligami dan Rasul menjalankannya kira kira kalau saya menentang itu semua termasuk menentang yang menurunkan AlQuran gak saya? ketika saya mati matian panas panas ikut demo anti poligami maka ketika itu saya tanyakan kepada hati nurani saya mungkin jawabannya akan begini “repot banget sih ..., ikut demo untuk menentang Rasul, gak dapet pahala loh ....” nauzubillahimindzalik :)

Jadi poligami dimata saya sebenarnya bukan sesuatu yang buruk, bukan sesuatu yang harus mati matian ditentang, jadi jika tidak setuju sebaiknya diam saja kan kita belum tentu lebih baik dari mereka yang kita hujat karena poligami kan?

Terlalu sombong rasanya kalau saya ikut ikutan say NO to POLIGAMI, sementara saya mengaku beragama islam dan mengaku sebagai pengikut Rasul :) hukum ALLAH tidak ada yang salah bukan?

Sungguh, bicara poligami tak akan pernah ada ujungnya, dimata saya poligami adalah sesuatu yang ada didalam AlQuran, dan semua yang ada disana tidak pernah ada yang salah, mungkin sekarang saya belum cukup mengerti, tapi suatu hari mungkin saya akan mengerti lebih dalam lagi, melihat begitu banyak kerusakan yang terjadi dibumi ALLAH hanya karena perempuan mengikuti egoismenya, terngiang di telinga saya ucapan perempuan di masjid tadi “Suami kita milih ALLAH De, hanya dititipkan kepada kita, ketika ALLAH berkehendak mengambilnya, ridholah” iya, bukankah ketika kita ridho dengan keputusan ALLAH maka ALLAH akan rhidho dengan kita, ketika ALLAH ridho maka curahan kasih sayang adalah balasannya :)

Jadi poligami itu apa ? apa yah … semakin dipertanyakan akan semakin melebar jawabannya bukan? jadi jangan perdebatkan ayat ayat ALLAH, ilmu kita tak akan sampai kesana :) sekali lagi saya tak mampu membuat kesimpulan dari tulisan saya kali ini, jadi biarlah mengalir seperti air :)
Sumber : http://rinduku.wordpress.com
Selengkapnya...

Curhat Muslim, Aku adalah ...

Ini adalah salah satu curhat rekan blogger favorit aku. Entah bagaimana ceritanya, atau entah apa saja yang menyebabkan rekan blogger yang dikenal dengan nama Mbak Rindu ini sampai begitu lembutnya menuangkan curhat-curhat dalam blognya. Wuih... sungguh aku secara jujur salut dan mengacungkan jempol !
Ini dia curhatnya...



Saya adalah seorang perempuan yang sedang mencari makna hidup, arti napas, yang sedang belajar mencari arti kehadiran demi kehadiran dan kepergian demi kepergian… Saya adalah perempuan di titik NOL di kebun hikmah yang tidak memiliki apa yang seharusnya saya miliki karena pecinta ILLAHI konon hanya ingin memiliki dan dimiliki ALLAH, ingin menjadi TIADA hingga bertahta ALLAH saja, hingga tinggal jiwa sederhana tanpa berbalut dunia.

Saya adalah perempuan yang sedang mencoba belajar tentang arti IKHLAS, arti SABAR, arti MENCINTAI dan DICINTAI, arti MEMAAFKAN, arti TAWAKAL, arti TIADA-ADA-TIADA, bukankah tak ada yang abadi dibumi ini, bahagia tak abadi, deritapun tak abadi, dan insya ALLAH apa yang saya tulis disini bisa memberi sedikit pelajaran untuk mencintai dan mengobati luka sekaligus dan yang pasti saya sedang mencari ridho ILLAHI pemilik napas saya agar ketika saya pulang, mudahlah sakaratul maut saya.

Nobody ever can stop me writing…

If there were no ink, I would use ash. If there were no ash, I would use stone. If there were no stone, I would use my sweats or my tears or my bloods…

And if my hands were unable to write something anymore, I would beg ALLAH to allow me, to ask the sky, to ask the trees or the ocean to help me keep writing my ideas in their silence…

Selamat berbagi hikmah di kebun saya ini, semoga memberi keteduhan dan kelembutan, semoga dapat mengobati luka, semoga dapat membuat senyum, dan semua yang indah datangnya dari ALLAH, dan yang salah datangnya dari saya, mohon maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan dengan hati.. saya hanya manusia :)


*Photo diatas belum tentu RINDU, dont judge by cover karena kecantikan itu jiwa, bukan raga *

Sumber : http://rinduku.wordpress.com
Selengkapnya...

Curhat Muslim, Mengapa Saya Berhijab...?

Curhat ini adalah tulisan dari salah seorang rekan blogger yang sudah malang melintang cukup lama di dunia maya. Hem... sungguh menurutku suatu pengalaman yang dapat dijadikan renungan. Buat aku, tentunya, dan juga buat sobat-sobat yang merindukan kesejukan disini.... didalam hati ini...


Mengapa saya berhijab …. ?

Jujur, saya tidak memiliki jawaban yang pasti, saya HANYA ingin pulang, kembali ke ALLAH … yang dapat saya rasakan adalah sudah bukan waktunya lagi saya berlari lari mencari kebahagian versi dunia tentunya… yang setelah saya peroleh semuanya lalu saya merasa bahwa bukan ini, dan bukan itu arti bahagia, lalu DIMANA?

Dan saya mengayunkan langkah untuk mencari ALLAH, dan langkah pertama saya adalah mengenakan Jilbab. Sumber idenya adalah dari sifat romantisme saya, Jika saya ingin mendekat kepada kekasih saya maka hal pertama adalah saya harus mempercantik diri, ALLAH menyukai perempuan yang menutup auratnya dengan hijab, perhiasan seorang perempuan muslimah adalah akhlaknya yang solehah, orang akan langsung mengenali saya bahwa saya adalah muslim karena jilbab saya, karena jika tidak maka saya tidak ada bedanya dengan yang bukan … iya HANYA ini langkah awal saya. HANYA ini.

Kemudian tarikan tarikan ALLAH terus membetot ubun-ubun saya untuk melepaskan semua atribut kejahiliahan saya … TANPA saya sadari, saya mulai mencintai hal-hal yang menuju kepada sang pemilik napas saya, tanpa saya sadari saya terbawa arus kebaikan, saya tenggelam didanau pengajian, saya terdampar dipadang illalang yang berisi dzikir, saya bermahkotakan Al Quran dan Hadits, saya tiba-tiba sangat mencintai tahajud, saya menjadi seperti penari dalam kalimat taubah dan hamdalah )

Dalam proses kemudian, saya mulai meninggalkan rok mini saya, berhenti memakai tanktop, bahkan blus lengan pendek apalagi celana pendek saya jauh saya tanggalkan… Lalu saya mulai berhenti mewarnai dan meluruskan rambut gelombang saya … dan entah mengapa saya merasa lebih cantik dengan membuang jauh-jauh pakaian itu, sahabat saya bilang “De, yang penting kan hati, loe tidak perlu berjilbab pun loe bisa menjadi baik“, sahabat saya tidak salah tapi untuk saya jilbab adalah sifat taat terhadap ALLAH dan sifat sosial saya dari menjaga diri saya terhadap tarikan tarikan mata mahluk berburung )

Bukankah indah akan semakin indah bila tertutup, akan menarik jika ia tidak terlihat, akan tetap menjadi misteri, yang tidak pernah akan selesai kecuali memiliki, sesuatu yang tidak bisa disingkap apalagi disentuh akan menimbulkan kerinduan… yang tersembunyi dengan baik dan terjaga akan memiliki nilai yang tinggi… tanpa hijab, tidak ada daya tarik, tidak ada KERINDUAN… bukankah ALLAH adalah misteri, dan tersembunyi maka kita semua merindukanNYA, bisa dibayangkan jika ALLAH terlihat oleh mata dunia kita kan? :)

Iya, inilah saya yang tidak pernah punya jawaban mengapa saya tiba-tiba kesetrum dan mengenakan jilbab … hanya ALLAH yang memiliki jawabannya karena saya tidak sanggup menjawab, yang pasti ketika kening menyentuh sajadah, ketika airmata tumpah saat tahajud, ketika tangan terangkat tinggi-tinggi untuk memohon ampunan, ketika titik NOL adalah titik kepasrahan saya atas semua yang ALLAH titipkan kepada saya, ketika tidak ada lagi jarak antara ALLAH dan saya, ketika jilbab saya menutup dada saya, ketika rok panjang semata kaki menjadi perhiasan saya kini, maka inilah kebahagian yang sesungguhnya saya cari kemarin …

Doakan saya kuat yah dan istiqomah dengan langkah yang saya ayunkan ini … Doakan saya kuat dan istiqomah yah dengan tarian tanpa topeng ini, dengan dawai tasbih dan hamdallah… saya ingin berpulang dengan pakaian yang disukai ALLAH )

Ya ALLAH kuatkan saya, hingga saya menutup mata, mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya di mahkamah agung milik MU …

*dibalik kerudung wajahmu tersembunyi … [rhoma irama mode ON]*
Sumber : http://rinduku.wordpress.com
Selengkapnya...

Selasa, 22 Desember 2009

kenyataan pahit yang harus dihadapi

Dalam hidup akan kita jumpai hal yang menyenagkan dan hal yang sangat menyakitkan.. Entah, kapan hal itu datang pada kita akupun tak tahu pasti.. Hanya Allah yang berhak menentukan kita seperti apa nantinya.. Kita hanya bisa berusaha untuk tetap tegar menjalani hidup yang penuh coba ini.. Sahabat adalah sosok yang selalu bersam kita,namu jika ia akan pergi bagaimana persaan ini.. Hancurkah seharusnya, pedihkah, atau kita harus cuek dengan itu semua?? Adalah kita yang menentukan.. rasa hidup tak berarti tanpa adanya sahabat yang akan selalu kita butuhkan.. jika kita sering menyakiti sahabat kita, apalah gunanya ikatan itu jika terus terjalin..

aku dan khilafku yang tak akan pernah mati, kecuali Dia (Tuhan) yang berkehendak. Jika ada pilihan yang memberatkan aku untuk pergi dari dunia ini meninggalkannya akan aku jalani itu semua.. Satu kesalahan yang telah aku lakukan ini sugguuh takkan ada maafnya.. Kau telah menyakiti hatinya yang paling dalam.. Kau menyesal, tapi penyesalan ini takkan berujung pada apapun yang kulakukan.. Semua telah terjadi..Sahabat, ku ingin kau tahu bahwa aku ini sangat menyayangimu.. Aku takkan bisa jauh darimu.. Namun, jika kau terus bersamaku kehidupanmu yang indah akan hilang karenaku.. Aku hanyalah pembohong Besar, Kau hanyalah orang yang akam menhancurkan kehidupanmu dengan orang lain.. Aku hanyalah sampah.. Tapi sahabat semua yang telah kau perbuat untukku takkan pernah mati dari dalam hatiku yang paling dalam.. Jika memang persahabatan ini hanyalah beban saat ini aku sannggup untuk pergi.. Pergi jauh dari kehidupanmu.. Pergi jauh untuk kebahagianmu.. Pergi jauh untuk terus melihatmu utuh..Pergi jauh dengan segala rasa sakit hatimu.. Tak ada yang ingin melihatmu bersedih.. Tak ada yang ingin membebanimu.. aku akan selalu hidup dalam hatimu.. Namu, aku kan mati sebagai sosok penghancur dalam dirimu.. aku iongin memahamimu, tapi ternyata aku hanyalah orang egois, kau hanya mementingkan persaaan ini, tanpa peduli denganmu.. Kau yang selalu menghiburku saat aku sulit, Kau yang selalu ada saat aku butuk, Kau yang selalu mambagi sukamu padaku, Kau yang akan selamanya hidup dan takkan pernah aku lupa, Kau adalah sosok yang begitu beraarti dam hidupku.. Kini buanglah aku jauh-jauh dari hidupnu, Kini kuburlah aku dalam hatimu ayng terdalam hingga kau tak rasakan aku lagi..... SAHABAT HINGGGA AKHIR WAKTU KAU ADALAH JIWAKU YANG TAKKAN PERNAH HILANG DARI DALAM TUBUH INI..................................................
Selengkapnya...

Rabu, 16 Desember 2009

Curhat Muslim, Dalam Untaian Cinta

Pagi ini mataku nanar melihat mentari
Sekian jauh memandang tak tertembus
Kabut putih menyaput pucuk-pucuk
Sekian langkah ini terhitung satu-satu


Cintaku pernah berserak
Dalam serakan yang banyak
Ingin kuhimpun kembali
Namun kutahu tanganku tak mampu sendiri.....

Bila hati pernah terluka,
Kan kubalut dengan segenggam cinta
Yang masih ada
Dalam bingkai kasih yg Alloh punya .............

Teruntuk para bidadariku yang sholihah
Selengkapnya...

Minggu, 08 November 2009

Curhat Muslim, Apa Memang Harus?

Detik di hari Ahad (08112009) ini sungguh terasa begitu lambat menjemput detik lagi. Wajah wanita di rumah ini yang berbalut kebencian dan dendam itu, mau tidak mau harus kusaksikan tanpa bisa aku cegah. Terlebih ucapnya kalau ia akan membiarkan benih laki-laki lain (sang imam) dalam rahimnya dan menerima sang imam disisinya, membuat awan pekat menggelantung di atas kepalaku. Awan yang setiap saat akan menyambarkan petirnya padaku.... Kembali aku tercenung .....

Apa mungkin aku memang harus merelakan istriku untuknya?

Wanitaku sudah menanamkan kebencian dalam dirinya padaku, atas tak menyayanginya aku padanya, atas tak perhatiannya aku padanya, atas perlakuan kerasnya aku padanya, dsb dsb dsb. Wanitaku sudah tak menyisakan cintanya lagi kepadaku, dengan apa lagi menahan semua kebersamaan ini? Mungkinkah memang diakhiri?
Tapi mengapa begitu berat menerima itu? Bagaimana hati bisa berbohong kalau aku masih mengharapkannya? Tapi apa aku harus memaksa kalau dia sudah tak lagi ada cinta?


Mungkin memang aku belajar melupakannya. Bagaimana kalau ndak bisa?
Sementara wajah bidadari-bidadari kecil yang selalu bermanja dan mencari mamanya, tampak begitu nyata di pelupuk mataku. Apa ia mereka harus dapat menerima kenyataan nanti mamanya tiada lagi menemani hari-hari yang mestinya mereka nikmati dengan seluruh keceriaan?
Kalau kenyataan itu memang harus dijalani, bagaimana aku atau bidadari-bidadari kecil itu bisa memilih?

Mungkin memang mama mereka memang akan menjadi mama anak-anak lain yang bukan lagi dari darah dagingku, meski dimulai dari langkah hitam. Apa lagi yang bisa menghalangi?
Hati sudah terpaut begitu dalam padanya, pada sosok lain yang begitu dicintai …. Yang selalu bergayut di pelupuk mata…. Yang sudah tercicipi madunya, meski dengan …. Dengan… dengan….

Yang jelas kepedihan ini mengiris iris …. Aku tak sanggup membayangkan, pikiranku selalu dihantui bayangan wanitaku bercumbu dengannya, tapi merelakan wanitaku untuknya aku sungguh tak bisa ….
Tapi pula hampir semua jalan sudah buntu … aku terpojok di sudut keharusan….

Apa memang aku harus menerima kenyataan itu? Dengan apa aku dapat menahan rasa ini?
Hanya sisa harapanku diberi kekuatan dan kasih sayang pada bidadari-bidadari kecilku…. Harapan yang salah satunya harapan agar mereka diberi kekuatan menempuh hari-hari denganku…. Harapan agar mereka selalu dibimbing Gusti Kang Maha Welas dan Maha Asih, agar selalu dijalannya … tidak menjual diri mereka dengan murah…. Tidak merelakan diri mereka untuk laki-laki yang bukan suaminya…

Tapi semua hanya berharap …. Darah sudah mengalir…. Dan alangkah kepedihan ini akan sempurna, seandainya nanti mereka …. Mereka…. Mereka….

Duh Gusti ….. andai Engkau meminta nyawaku agar bidadari-bidadariku tetap dijalan-MU dengan naungan seluruh kasih sayang dan ridho-MU, aku relakan ….
Selengkapnya...

Kamis, 22 Oktober 2009

Curhat Muslim, (Satu) Lagi tentang Cinta

Untuk kesekian kali, aku tebersit pikiran menuliskan tentang kata yang seolah begitu diagungkan oleh sebagian besar manusia di dunia ini. Ya, cinta ....
Seorang rekan (Fahma Fadhilah) menuliskan untaian ini :
Cinta mengajariku begitu banyak hal. Membuatku menangis, membuatku tertawa, dan membuat mengerti bahwa ia mampu mengendalikan perasaan ini. Cinta menunjukkan padaku, bahwa ia tak selalu indah. Ia membuatku memahami, bahwa ia tidaklah sempurna.

Lalu aku kembali bertanya, "Apakah memang benar cinta mempunyai dimensi seperti itu? Sebab, pernah aku mendengar bahwa kalau rasa yang dianugerahkan Sang Maha Pengasih ini begitu murni ... begitu indah ... dan nyaris sempurna. Kalau makhluk yang dikarunia cinta ini merasakan hal lain, mungkin perasaan itu sudah terkontaminasi dengan satu makhluk lain yang biasa disebut nafsu. Ya ...

Selanjutnya, Fahma menuliskan juga bahwa Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Selengkapnya...

Minggu, 11 Oktober 2009

Curhat Muslim, Menyanjung Cinta

Mohon maaf, aku menulis ini sebenarnya rada-rada gimana gitu. Sebab diusiaku yang tidak bisa dikatakan muda lagi, hal yang kutulis lebih layak untuk konsumsi abg. Aku sendiri tak sepenuhnya tahu dan mengerti, mengapa saat ini aku ingin menuliskannya disini. Mungkin kemarin-kemarin saat aku mestinya mengecup semua keindahan dalam naungan payung nuansa hati, aku belum sempat mengenyamnya. Atau, mungkin aku puber lagi ? He... he... he.... Kadang aku juga bingung dengan semua ini. Atau pula, cinta tak tak mengenal batas usia ?


Ya, aku menuliskan sesuatu tentang ...

CINTA ....
(by Welly Kusuma R)

Cinta adalah kekuatan...
yang mampu mengubah duri jadi mawar...
mengubah cuka jadi anggur...
mengubah sedih jadi riang...
mengubah amarah jadi ramah...
mengubah musibah jadi muhibbah...
itulah cinta

Sekalipun cinta telah ku uraikan...
dan ku jelaskan dengan panjang lebar...
namun jika cinta kudatangi...
aku jadi malu pada keteranganku ...


Meskipun lidahku telah mampu menguraikan....
namun tanpa lidah...
cinta ternyata lebih terang...
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya...
kata-kata pecah berkeping-keping...
begitu sampai kepada cinta...

Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya...
bagaikan keledai yang terbaring dalam lumpur...

Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan
Selengkapnya...

Rabu, 07 Oktober 2009

Curhat Muslim, Setitik Harapan

Beberapa hari lalu, pikiranku cenderung dalam kegelisahan. Detik demi detik yang kulalui, seperti meniti jalan berkerikil tanpa alas kaki. Nyeri dan ngilu kurasakan di sekujur tubuh. Tak urung menjadikan mata ini memercing, dahi berkerut, dan wajah tertunduk. Orang-orang banyak memandangiku, hanya memandang. Hampir tak ada seorang pun yang beranjak memegang pundakku seraya berbisik, "Ada apa? Apa yang bisa aku bantu?"
Mengapa? Mengapa hampir semua orang hanya memandangiku? Membiarkanku dalam ketermanguan dan terantuk-antuk? Saudara-saudarakukah mereka? Apa benar memang teman-temanku? Lalu mengapa kau biarkan aku?


Dalam tanda tanya itu, tertatih aku memegangi tongkat pemapahku. Tersisa harapanku pada Gustiku... Ya, tersisa dan kusandarkan asa terakhirku pada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Yang Maha welas tanpa minta balas, Yang Maha Asih tanpa meminta kembali ...
Akhirnya kurasakan setitik harapan kebersamaan itu disini, saat hampir semua asa punah.
Makhluk hawa yang dianugerahkan kepadaku, mau sedikit membuka hati. Merenungi kembali semua salah dan langkah kemarin. Salahku, langkahku, salahnya, dan langkahnya. Walau aku tahu dia dalam kebimbangan, meski aku menyadari dia dalam keraguan. Masih dalam tanda tanya, akankah kebersamaan ini kan diulang kembali dalam tebaran senyum ketulusan ?

Ya Ilahi ..... sekali lagi, aku sandarkan asa ini pada kasih sayang-MU, dalam keyakinanku Gusti tidak akan mengecewakan hamba yang benar-benar bersandar pada-MU. Amien .....
Selengkapnya...

Kamis, 24 September 2009

Curhat Muslim, ber-Hari Rayakah Aku?

Akhirnya masa penantian selama sebulan dalam naungan ramadhan, berujung di hari Iedul Fitri. Ahad, 20 September tahun ini menjadi hari yang begitu menggembirakan bagi begitu banyak manusia. Termasuk aku ....
Tetapi, di lain saat aku masih merasakan kengiluan di bagian lain hatiku. Sebab ku lihat aku ada di ujung kondisi yang seperti menggali jurang kehancuran untuk dua bidadari kecilku.


Sehari sebelum hari kemenangan tiba, Rizka melayangkan satu pesan melalui media yang ia dulu mencoba berpaling dariku.
"Meski kukatakan walau ini kan terasa menyakitkan. Sampai saat ini aku tetap pada pendirianku, aku ndak bisa kembali ke sana (rumah ini) seperti dulu, aku ndak sanggup menjadi pendamping Sampeyan lagi. Dan perpisahan yang q pilih. Untuk Syifa, dia kan lebih baik disana, terlalu berat buat q harus membawa mereka berdua ...."
(from 081803853211 ; jam 14:03:48 ; 18/09/2009)

Kebingungan menyelimuti diri, beribu tanda tanya melingkupi otak dan hati. Inikah hari kemenangan yang harus kunikmati?

Pas di hari kemenangan (Ahad, 20 September) aq masih menerima pesan melalui media yang sama dengan Rizka yang dulu mencoba melukai aku dengan inginnya memuaskan hati.
"Teb!ng tinggi dapat didak! ... dendam di hat! susah dijajak! ... k!k!s smua benci dandengki .... Mohon maaf dengan sepenuh hat! ...
Minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lah!r dan bat!n. Met hari raya Idul Fitri ..."
Dalam ketermanguanku aku merasakan ada luka lagi dalam hatiku. Teradakah pesannya ini untuk menambahi kelukaanku? Teradakah pesan itu menjadi penghias dan pemanis bibir? Sungguh jauh didalam lubuk hatiku berharap pesan itu lahir dari dalam hatinya, memang ada hidayah dan pemikiran tuk kembali mengaji kembali semua pemikiran-pemikiran selama ini ....

Di ujung mimpi ini, tertunduk aku munajat diri, "Ya Ilahi, karuniakanlah kepada kami hidayah-MU. Jangan biarkan kami menjadi orang yang Engkau murkai dengan perbuatan kami yang menuruti nafsu diri ..... Amien amien amien ..."

Selengkapnya...

Sabtu, 19 September 2009

Curhat Muslim, Dalam Ketakmengertian

Tumbuh dalam lingkungan pedusunan agaknya memangnya banyak mempengaruhi perkembangan pola pikirku. Lingkungan pedusunan, namanya saja sudah dusun, pasti tidak jauh dari bayangan masyarakat di wilayah desa yang (paling tidak) jauh dari kota. Tentu saja gaya hidup masyarakat dusun tidak sama dengan orang-orang kota. Walau tidak dipungkiri dari waktu ke waktu, nilai-nilai yang ada di sebuah dusun berangsur-angsur memudar karena terpaan nilai-nilai yang dibawa warga dusun itu sendiri yang sudah paham model lingkungan orang-orang kota.
Hal ini dapat kurasakan di salah satu cara pandang dan pola pikirku tentang hubungan seorang laki-laki dan perempuan. Dalam hal apa? Banyak hal.
Misalnya .....


Menurut sudut pandangku, jika seorang perempuan sudah mempunyai suami sah secara agama maupun dalam naungan hukum di negara ini, tentu perempuan itu harus menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan suami serta keluarganya. Di lingkungan dusunku, perempuan yang sudah menapaki rumah tangga sudah disebut wanita. Kata wanita, menurut sebagian cerita berasal dari bahasa Jawa wani ditata, yang kurang lebih dimaknai orang yang sudah harus mau menata diri dan mau ditata oleh suaminya.
Kedengarannya sih kolot, ya nggak? he... he... he....
Tetapi menurut aku, justru banyak aku temui begitu dalam filosofi yang ada dalam kebiasaan-kebiasaan (adat?) masyarakat dusunku ini. Bahkan kadang aku mendapati nilai-nilai yang luhur dalam keseharian masyarakat dusunku ini.

Namun di saat lain sering kali aku menemui banyak perempuan yang 'mencoba' untuk tidak setia pada pasangannya, walaupun perempuan itu sudah secara resmi menjadi istri. Atau dalam bahasaku sudah disebut sebagai wanita, yang mengarah pada seorang perempuan yang sudah seharusnya dan selayaknya bisa menata diri, bisa menjaga kehormatan diri - suami dan keluarganya. Seorang perempuan yang sudah harus berani (mau) ditata, oleh tatanan yang dipakai di masyarakat maupun tatanan yang ada dalam dogma yang dianut.
Lalu kalau seorang perempuan yang sudah bersuami melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain dan mengkhianati suaminya (dengan asumsi: perjalanan rumah tangga secara umum tidak ada kendala dan suami setia, meski selisih paham serta beda pendapat sudah pasti ada), nilai tatanan manakah yang ia pegang? Atau ajaran dogma mana yang membolehkan seorang perempuan yang sudah bersuami untuk berslingkuh?

Atau, tatanan dalam masyarakat dan dalam dogma ajaran agama memang sudah tidak berlaku lagi? Orang sudah lebih menomorsatukan akal dan pikirannya? Atau, sedikit lebih ekstrim lagi orang-orang sudah mendahulukan nafsunya?
Selengkapnya...

Jumat, 18 September 2009

Curhat Muslim, Kerinduanku Padanya

Sungguh menggelikan di usiaku yang seperti ini aku baru merasakan bagaimana rasanya bila seseorang yang begitu berarti tidak berada disampingku. Sebab dari waktu ke waktu yang sudah aku lalui, hampir-hampir bagian ini selalu terlewati dan tak terhiraukan. Ha... ha... ha....

Ya, memang sejak dulu sejak aku merasakan mulai ada rasa yang berbeda kepada makhluk manis dari kaum hawa, perasaan seperti itu selalu aku tepiskan. Sedapat mungkin dan sekuat tenaga aku tak menghiraukan, atau lebih tepatnya tak berani aku biarkan ada dan tumbuh dalam diriku. Kenapa?
Mungkin sobat pernah merasakan atau setidaknya mengalami satu perasaan bahwa diri ini tak mempunyai sesuatu yang dapat dilebihkan dan ditonjolkan. Ganteng? tidak..... Postur tinggi atau atletis? juga tidak .... Kaya? ehm ... kaya apanya? Lha wong aku hanya anak seorang buruh tani yang hidup di sebuah dusun di wilayah Kabupaten Malang ini.


Dari itu, dari awal aku sudah tak berani menumbuhkan perasaan suka kepada seorang makhluk manis ....
Namun di waktu-waktu ini Yang Maha Pengasih memberiku seseorang makhluk manis itu. Itupun di awali dengan hati yang kosoong. Belum ada rasa apa-apa. Hanya sekedar menjalani lakon ini, detik demi detik. Hingga detik demi detik itu merangkai waktu yang menggandeng hitungan tahun .... Dan tanpa kusadari aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mulai merasakan begitu sepi tanpa seseorang itu ada bersamaku. Ada sesuatu yang hilang dan hitungan waktu menjadi begitu hampa, kalau dia tak disini ....

Dan justru pada saat semacam itu, dia menyampaikan inginnya tuk mengakhiri semua cerita ini. Makhluk manis itu mengutarakan isi hatinya, bagaimana selama ini cara pandang dia dan aku sungguh jauh berbeda. Semua perbedaan yang melahirkan salah paham, gontok-gontokan, dan menomorsatukan ego masing-masing tanpa ada yang mau diasorkan ...
Dia, Rizka (begitu makhluk manis itu biasa aku panggil), begitu ngotot tuk melangkah dengan kesendiriannya lagi. "Perbedaan kita tidak mungkin disatukan ....", begitu dia berkata.

"Meski ku sampaikan walau ini kan terasa menyakitkan..... Sampai saat ini aku tetap pada pendirianku, aku ndak bisa kembali ke sana seperti dulu. Aku ndak sanggup lagi menjalani hidup bersama sampeyan lagi. Dan perpisahan yang aku pilih ....," begitu pesan yang disampaikan padaku. (from 081803853211 ; 18/09/2009 ; pukul 14:03:48)

Sungguh, bagaimana semua ini harus aku hadapi ? Benih kasih sayang ini sudah terlanjur tumbuh, meski belum tersirami dan tumbuh menghijau. Buah sayang ini pun sudah ku gandeng dan ku genggam, bagaimana aku harus menyikapi? Akankah harus kutelan kepahitan ini, disaat aku mulai merasakan damai di cerita ini?
Tak adakah satu pemikiran dalam diri Rizka tuk mencoba merangkai lagi semua cerita indah bersama ? Mencoba menjadikan semua salah dan beda sebagai pengarah langkah-langkah ini ? .....
Semua kata-kata sudah aku rangkai tuk menjadi bahan pikir. Dari semua rajutan kisah yang terangkai, liku perjalanan yang terjalani, dan buah kasih sayang yang sudah dianugerahkan .... sudah aku sampaikan semua, namun inginnya Rizka belum tergoyahkan.

Atau ... bagi Rizka aku sudah tergantikan seseorang lain ?
Selengkapnya...

Rabu, 09 September 2009

Curhat Muslim, Kemanakah Angin Bertiup?

Di sepuluh hari kedua ramadhan tahun ini sepertinya akan menjadi salah satu waktu yang mengguratkan kisah yang sangat berarti dalam hidupku. Seperti layaknya Anak Baru Gege (ABG) yang sedang kasmaran, aku terantuk pada cerita yang banyak menghiasi hidup anak manusia itu. Ya, aku terperangkap dalam kisah asmara yang melarutkan diriku. Larut yang kurasakan begitu mendalam, seperti tanpa sadar aku melaluinya.

Seperti aku ungkapkan di atas dan bak cerita dalam sinetron (ceileh ...), perjalanan waktu yang kulalui bersama Rizka (begitu wanita yang dihadapkan Ilahi padaku ini biasa aku panggil) yang semula tanpa rasa, kini kusadari tidak lagi seperti itu. Yach, di awal perjalanan bersama ini aku belum merasakan arti kehadirannya bagiku. Aku belum merasakan beban yang berat apabila Rizka tidak di sini. Aku seolah tak peduli, dia ada atau tidak diperjalananku dan aku tetap berjalan...

Bagaimana mungkin aku berjalan dengan seorang perempuan yang aku tidak merasakan arti kehadirannya di hatiku? ....


Ya... Langkahku bersama Rizka lebih banyak didukung oleh pembimbingku, orang yang kujadikan bapak dan membantu arah perjalanan hidupku. Sekali lagi, bagaimana bisa ?

Jawabannya adalah b i s a !

Kamu mungkin pernah mendengar seseorang yang mencari ilmu di suatu majlis khusus, gambarannya seperti padepokan atau suatu perguruan klasik jaman dulu. Dimana nilai yang begitu kental pada situasi macam itu adalah kepatuhan seorang santri, sebut saja begitu, pada guru yang membimbingnya.

Namun aku tidak sepenuhnya demikian. Aku lebih condong bahwa orang yang mengarahkan aku kuanggap sebagai bapakku, memberi masukan-masukan untuk keputusan yang aku ambil, dan semacamnya. Termasuk perjalanan hidupku yang tertukil bersama sisian hidupku. 'Bapak' aku itu juga memberi masukan wanita yang menjadi partner perjalanan merangkai cerita cinta.

Nah, semacam itulah awal perjalanan cerita cintaku.
Namun setelah perjalanan ini mengulang tahun yang kesekian, ada rasa yang beda tumbuh dalam diriku. Ada rasa berat saat Rizka jauh dariku. Ada rasa kehilangan saat Rizka tidak menemaniku. Ada rasa .....
Semula aku tidak yakin dengan perasaan ini. Seorang teman sempat berceloteh sambil cekikikan, "witing trisno jalaran soko kulino iku ...."

Dan, pada saat aku merasakan begitu hebatnya rasa ini justru pada saat aku dan Rizka sudah tahu banyak perbedaan pandangan antara kami. Perbedaan yang sementara ini aku dan Rizka coba menepisnya.
Selengkapnya...

Sabtu, 22 Agustus 2009

Curhat Muslim, Maafkan Aku Ramadhan

Saat adzan isya' mulai berkumandang di ujung malam hari Jum'at berkalender 21 Agustus 2009 ini, ada perasaan gelisah dalam diriku. Pikiran-pikiran aneh dan tak menentu berkeliweran di otakku. Dengan langkah-langkah sedikit gontai, kulangkahkan kakiku menuju masjid yang ada di dusunku. Aku lihat di jalan menuju masjid, orang-orang dusunku masih banyak yang setia dengan keyakinan sholat jamaahnya, berjalan dengan langkah mantap menuju masjid yang terletak di kampung sebelah selatan dari 2 kampung yang ada di dusunku.
Perasaan ini makin tak karuan. Ada perasaan malu .....


Jauh dalam diriku ada yang berkata-kata sendiri, "Maafkan aku ramadhanku. Bukan aku tak gembira dengan kedatanganmu. Aku senang, aku bahagia, dan aku gembira sekali kau datang. Bukan saja kau tamu agung utusan Ilahi untukku menguntai pahala menukil dosa demi dosa. Akan tetapi aku takut ....."
Kuhela nafas, "Aku takut tidak bisa menghormat kepadamu. Aku khawatir tidak bisa memberi nuansa indah di hari-harimu. Aku masih merasakan kegamangan tidak bisa melukis di kanvasmu dengan semburat warna yang kan membuat keagunganmu begitu indah ....."

Ah .....
Selengkapnya...

Mutiara Curhat

Curhat menjadi satu arti
Curhat menjadi penuh arti
Curhat menjadi kebutuhan hati ...
Tuliskan curhatmu disini, saudaramu kan memelukmu erat dan memberimu embun
Kirim email ke tu.curhatmuslim@gmail.com

Statistik Tamu

Sponsor Cepat

Labels

Followers

Ruang Ngobrol


ShoutMix chat widget
 

Iklan Jitu


Masukkan Code ini K1-C1D41F-F
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com